3 Orang Tewas Akibat Api Kebakaran Gedung DPR Makassar. Malam Jumat, 29 Agustus 2025, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dilanda kerusuhan hebat yang berujung pada kebakaran Gedung DPRD Kota Makassar di Jalan Andi Pangerang Pettarani. Tragisnya, insiden ini memakan tiga korban jiwa akibat kobaran api yang melalap gedung dan sekitar 67 kendaraan di halamannya. Aksi ini dipicu oleh kemarahan massa atas kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas ditabrak kendaraan Brimob di Jakarta, serta kecaman terhadap tunjangan DPR yang dianggap tidak sensitif. Artikel ini mengulas alasan massa membakar gedung, kejelasan soal korban jiwa, penyebab chaos yang sulit dikendalikan, dan pelajaran dari tragedi ini. BERITA VOLI
Kenapa Para Massa Sampai Membakar Gedung DPR
Kerusuhan di Makassar dipicu oleh kemarahan massa atas kematian Affan Kurniawan pada 28 Agustus 2025 di Jakarta, yang tewas setelah ditabrak dan dilindas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi menentang tunjangan DPR sebesar Rp50 juta per bulan. Video insiden tersebut yang viral di media sosial memicu solidaritas dari komunitas ojek online, mahasiswa, dan warga Makassar. Sekitar pukul 20.00 WITA, ratusan demonstran berkumpul di depan Gedung DPRD, awalnya hanya berorasi menuntut keadilan. Namun, situasi memanas ketika sebagian massa mulai melempar batu dan petasan. Sekitar pukul 22.00 WITA, mereka menerobos pagar dan membakar kendaraan di halaman gedung menggunakan bom molotov dan bensin. Api dari kendaraan merembet ke gedung, menghanguskan pintu masuk, atap, dan beberapa ruangan. Aksi ini diduga diperparah oleh provokator, terlihat dari penggunaan simbol seperti bendera Jolly Roger, yang mengeskalasi kemarahan menjadi tindakan anarkis. Ketidakpuasan terhadap tunjangan DPR dan respons aparat yang dianggap represif juga menjadi pemicu utama.
Apakah 3 Orang Tersebut Meninggal di Dalam Gedung
Tiga korban jiwa yang tewas dalam kebakaran ini masih dalam proses identifikasi, namun berdasarkan laporan awal, tidak semuanya meninggal di dalam gedung. Satu korban, Syaiful, seorang Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah, tewas akibat luka bakar parah setelah terjebak di pos polisi dekat gedung yang juga dibakar massa. Dua korban lainnya, yang diduga aparatur sipil negara (ASN) yang sedang berada di dalam Gedung DPRD saat rapat paripurna, kemungkinan tewas akibat luka akibat benda tumpul atau kepanikan saat mencoba melarikan diri dari kobaran api. Meski sebagian besar anggota DPRD dan staf berhasil dievakuasi melalui pintu belakang, beberapa orang terjebak karena api menyebar cepat. Asap tebal dan kerusuhan di luar gedung membuat evakuasi sulit, sehingga memungkinkan korban tidak sempat menyelamatkan diri. Penyelidikan polisi masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti kematian dan lokasi tepatnya.
Kenapa Demo Ini Menimbulkan Chaos Yang Sulit Dihentikan
Chaos di Makassar sulit dikendalikan karena beberapa faktor. Pertama, eskalasi cepat dari aksi damai ke anarkis terjadi akibat provokasi, baik dari narasi di media sosial maupun kelompok tertentu di lapangan. Video kematian Affan yang menyebar luas memicu emosi massa, diperparah oleh selebaran dan pesan berantai yang menyalahkan pihak tertentu, termasuk narasi SARA. Kedua, minimnya kehadiran aparat di awal demo memungkinkan massa bertindak leluasa, sementara respons polisi yang terlambat dan penggunaan gas air mata di lokasi lain justru memanaskan suasana. Ketiga, ketimpangan sosial dan kemarahan terhadap kebijakan DPR yang dianggap tidak adil menjadi bara dalam sekam, mudah tersulut oleh provokator. Kehadiran simbol seperti Jolly Roger menunjukkan adanya upaya terorganisir untuk memperkeruh situasi. Terakhir, kurangnya komunikasi antara aparat dan demonstran membuat situasi sulit dikendalikan, dengan massa semakin agresif setelah bentrokan awal. Akibatnya, aksi yang seharusnya menyuarakan keadilan berubah menjadi perusakan dan tragedi.
Kesimpulan: 3 Orang Tewas Akibat Api Kebakaran Gedung DPR Makassar
Kebakaran Gedung DPRD Makassar pada 29 Agustus 2025, yang memakan tiga korban jiwa, adalah tragedi yang mencerminkan betapa berbahayanya demonstrasi yang tidak terkendali. Kemarahan atas kematian Affan dan tunjangan DPR memicu massa membakar gedung, namun tindakan ini justru merugikan masyarakat dengan korban jiwa dan kerusakan fasilitas umum. Ketiga korban, yang sebagian besar tewas di luar gedung, menjadi pengingat akan dampak chaos yang diperparah provokasi dan kurangnya pengendalian. Pemerintah harus segera menangani akar masalah, seperti keadilan untuk Affan dan transparansi kebijakan, sambil memperkuat dialog dengan masyarakat. Massa juga perlu menyuarakan aspirasi secara damai untuk menghindari kerugian lebih lanjut. Mari bersama-sama menjaga Makassar dan Indonesia tetap aman dengan menolak provokasi dan memprioritaskan persatuan.